Selamat Datang (Welcome)!

Situs Pengembang nilai-nilai kenegaraan, kebangsaan dan kemanusiaan

Halaman Utama (Main Page)

Tulisan Berdasar Isu (Based on Issues)
.

Signal

PERTAMA DI BANJAR BARU: PESTA SPESIAL KEMBANG API KITA

PERTAMA DI BANJAR BARU: PESTA SPESIAL KEMBANG API KITA

Memperkokoh Posisi Telkomsel Kita di Kalimantan Selatan

Sebagai anggota Keluarga Besar Telkomsel, kita patut bangga sekaligus bersyukur. Sangat beralasan, perusahaan Telkomsel kita membiayai semua kegiatan untuk pemasaran produk secara sempurna. Hasilnya, setiap kegiatan pemasaran kita menjadi sangat terbantu, dan tentu saja memudahkan kita meningkatkan pendapatan untuk kemajuan perusahaan dan kemakmuran kita, sekaligus kesejahteraan masyarakat pengguna produk Telkomsel.

Produk-produk Telkomsel kita memang telah dikenal luas dan tertanam di hati masyarakat. Masyarakat sendiri tak segan-segan menyatakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Telkomsel. Mereka sangat menikmati segenap fasilitas dan pelayanan yang diberikan Telkomsel. Dan tentu saja: setia menggunakan produk Telkomsel!

Untuk mengingatkan masyarakat agar selalu menggunakan produk Telkomsel, perusahaan kita melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak tanggung-tanggung. Pesta Kembang Api misalnya, hanya Telkomsel-lah yang pertama kali menyelenggarakannya secara besar-besaran di Kabupaten Banjar Baru, tidak jauh dari Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan. Kita tahu, memang Telkomsel kitalah satu-satunya operator yang telah menjangkau seluruh kecamatan di Kalimantan Selatan ini.

Pengakuan masyarakat terhadap kegiatan yang kita selenggarakan ini, diungkapkan oleh Bupati Banjar Baru dalam acara adat tahunan yang digelar masyarakat Banjar Baru, Malam 21 Bulan Ramadhan belum lama ini.

Dalam pesta rakyat Banjar Baru yang diagendakan menjadi paket wisata daerah itu, dengan bangga Bupati berkata: ”Acara Pesta Tagalong dan Bagarakan Sahur malam ini, adalah yang ke-6 kalinya kita gelar. Yang spesial di malam ini, yakni adanya Pesta Kembang Api sekitar 10 menit yang dipersembahkan Telkomsel. Ini adalah Pesta Kembang Api pertama kalinya di Banjar Baru.”

Spesial, istimewa, dan pertama (nomor satu), begitu orang nomor satu di Kabupaten Banjar Baru menilai kegiatan yang kita selenggarakan di Lapangan Murjani ini. Pesta Kembang Api Telkomsel kita laksana puncak dari pesta rakyat di lapangan yang lazim dipakai untuk upacara kabupaten, yang Minggu 14 Oktober 2006 itu tiba-tiba menjadi penuh sesak oleh lebih dari 86 kendaraan hias berjajar rapi, dan ribuan orang tua-muda, besar-kecil, lelaki-perempuan yang tumpah ruah.

Selepas tarawih, sekitar pukul 20.00, masyarakat sudah memenuhi pinggir jalan untuk melihat konvoi kendaraan hias (Tagalong) di mana kendaraan yang mampu menampilkan hiasan terindah akan menjadi pemenang. Di atas mobil hias itu yang akan pawai keliling kota itu, masyarakat meneriakkan suara bangun sahur (Bagarakan Sahur), lewat pengeras suara dan aneka alat tradisional kendang, botol, dan sebagainya. Jajaran kendaraan hias itu sungguh menarik pandangan. Ada miniatur masjid lengkap dengan gemerlap lampu hias. Ada miniatur orang berdzikir yang goyang-goyang sendiri, dan aneka bentuk kendaraan hias kreatif dari berbagai penjuru desa di Banjar Baru. Bahkan, dihadiri perwakilan dari Banjarmasin, dan sejumlah Kabupaten lain.

Di tengah ribuan penduduk itulah nama Telkomsel kita betul-betul bersinar! Rekan kita Ramadifta, Manager graPARI Banjarmasin, yang didaulat bicara di depan ribuan masyarakat Banjar Baru dan juga para elit pemerintah kabupaten itu, dengan bangga menggemakan kiprah Telkomsel: ”Selamat Malam, sebuah kebanggaan bagi Telkomsel untuk berpartisipasi dalam acara ini, sebagai upaya Telkomsel mendorong perkembangan budaya daerah.”

”Tak hanya di sini,” sambung eksekutif Telkomsel kita di Banjarmasin itu, ”Telkomsel saat ini adalah satu-satunya operator yang telah menjangkau seluruh kecamatan di Kalimantan Selatan. Jadi saat mudik, tidak perlu khawatir. Kami dari Telkomsel juga membangun beberapa posko kerjasama dengan Kepolisian untuk melayani keperluan mudik.”

Setelah Tokoh masyarakat yang diwakili Haji Rusdidari Banjarmasin Post memberi kata sambutan, sebelum bendera start pawai ditarik, Bupati Banjar Baru memencet tombol.

”Dor!!..Dor!!!” bunyi kembang api bersahut-sahutan. Bola-bola api meluncur ke langit. Di angkasa malam yang terbentang luas, bola-bola api itu memecah dan berpendar-pendar.

”Wah..wah....wah!!” denyut keheranan pengunjung terdengar, diiringi tepuk tangan, menjadi pengiring dimulainya Pesta Kembang Api persembahan Telkomsel.

Nama Telkomsel pun terus didengungkan pembawa acara (MC). Ya, sentuhan Telkomsel lewat sponsorship pesta Kembang Api, menjadi brand yang ditancapkan di hati masyarakat dan akan terus mengakar serta bertumbuh serta berbuah lebat dalam pengembangan sumber daya masyarakat dan sumber daya daerah Kalimantan Selatan yang amat kaya dan berpotensi sebagai pasar yang sangat bagus untuk pengembangan dan perluasan manfaat Telkomsel di masyarakat.

Perusahaan kita pun tak tanggung-tanggung mendukung kegiatan Branding dengan Pesta Akbar Kembang Api dan penyebutan Brand Telkomsel yang berhasil merebut hati masyarakat ini. Tenda dan umbul-umbul Telkomsel berkibar di mana-mana. Ribuan selebaran produk, dan brosur Nada Sambung Pribadi dibagikan TPR. Dan tentu saja, booklet panduan mudik TELKOMSELsiaga yang sangat bermanfaat bagi pendatang di Banjar Baru yang berasal dari daerah-daerah seluruh Indonesia.

Lewat layanan nomor A D N, kita juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilih kendaraan hias idolanya via SMS. ”Caranya cukup ketik keyword SOTT, lalu diikuti nomor kendaraan dan kemudian kirim ke 3954,” ucap MC berulang-ulang.

Upaya demi upaya terus berjalan, bahkan sampai selimut malam yang makin pekat hingga
pukul 01.30 dinihari, ketika satu persatu kendaraan hias sudah kembali lagi ke
Lapangan Murjani selepas takbir keliling kota. Saatnya pesta berakhir, dengan pengumuman pemenang dalam kategori Tagalong dan Bagarakan Sahur. ”Sampai jumpa di tahun mendatang,” tutup MC, selepas membacakan hasil lengkap pemenang acara sekaligus simbol kemenangan Telkomsel dalam merebut hati masyarakat.

Sikap positif dalam melayani masyarakat dan terus melakukan tugas dan tanggungjawab dalam membesarkan perusahaan melalui pemasaran yang dilakukan oleh rekan-rekan anggota Keluarga Besar Telkomsel di Kalimantan Selatan ini berbuah lebat. Sekitar 250 SMS masuk dalam waktu semalam atau sekitar 3 jam. Dengan menggandeng salah satu Authorized Dealer, malam itu kita berhasil menjual sekitar 80 starter pack kartu simPATI. Makin memperkuat posisi kita sebagai satu-satunya operator yang telah menjangkau seluruh kecamatan di Kalimantan Selatan.

Penggunaan produk-produk Telkomsel di berbagai kalangan masyarakat pun akan terus bertambah dan terjaga secara berkesinambungan. Hal ini merupakan hasil kerja keras kita dengan penuh kebersamaan, yang ditunjukkan oleh tim kita di berbagai daerah yang pantang menyerah dalam mengemban misi perusahaan untuk kebaikan, kemajuan dan kesejahteraan bersama, baik untuk pribadi, perusahaan dan tentu saja masyarakat luas!


(Teguh Kuncoro - Staff Marketing Operasional Telkomsel Regional Kalimantan/YR)

Nubuat Labirin Luka

CEGAH: RAMALAN LUKA JADI NYATA

CEGAH: RAMALAN LUKA JADI NYATA

Oleh Yonathan Rahardjo

Prolog Buku Antologi Puisi untuk Munir Nubuat Labirin Luka/ Aceh Working Group, Sayap Biru/ 2005


Untuk apakah Munir Said Thalib melakukan pembelaan terhadap pahlawan buruh Marsinah yang tewas secara misterius di Sidoarjo dengan menjalankan Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah ketika Munir tinggal di Jawa Timur pada tahun-tahun kematian Marsinah pada kurun waktu menjelang akhir abad 20?

Untuk apakah Munir menyatukan gerakan pencarian jawab misteri orang-orang hilang dan korban kekerasan dari banyak tragedi di tanah air dengan memimpin langsung Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) pada tahun-tahun kejatuhan Presiden Republik Indonesia Soeharto akhir abad 20 hingga awal abad 21 ini?

Untuk kemanusiaan, keadilan, dan pembangunan. Pembangunan?

Ya. Bukankah paradigma pembangunan yang diterapkan di negara ini berupa pembangunan manusia Indonesia seutuhnya? Jasmani dan rohani, fisik, mental dan spiritual, seperti yang didengung-dengungkan pemerintah berkuasa sepanjang orde-orde pembangunan? Dan lelaki kelahiran Malang Jawa Timur 8 Desember 1965 ini, dengan total telah memainkan peran penegakan Hak Azasi Manusia yang merupakan bagian paling dasar dari pembangunan manusia Indonesia seutuhnya!

Ya, yang Munir perjuangkan adalah jantung dari pembangunan. Demokrasi dan keterbukaan adalah jantung pembangunan. Hingga masuk era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang, yang ternyata malah di era baru inilah suami Suciwati ini dibunuh.

Mengapa ia dibunuh pada era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang? Ya, mengapa Munir tewas dalam pembunuhan misterius dengan racun arsenik dalam hidangannya saat penerbangan pesawat Garuda dari Jakarta jurusan Amsterdam, 7 September 2004 untuk kuliah di Belanda?

Lalu mengapa setelah dilakukan pengadilan lebih dari satu tahun, masih belum ada kejelasan kepastian kasus: mengapa dan siapa yang membunuh pendiri The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) ini?

Mengapa penyelesaian kasus pembunuhan ini sangat lambat mandek, tidak ada perkembangan, dan sejauh ini, polisi hanya baru menetapkan tiga tersangka, yaitu pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto yang kasusnya tengah disidangkan), Oedi Irianto (petugas pantry Garuda) dan Yetty Susmiyarti (pramugari Garuda)?

Bukankah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri (kala itu) Jenderal Pol. Da'i Bachtiar, sudah menjanjikan bahwa polisi akan segera menuntaskan kasus itu, bahkan kini Kapolri sudah berganti di tangan Jenderal Sutanto?

Seperti halnya gagal dalam menangani pelanggaran HAM di masa lalu, seperti kasus pembunuhan mahasiswa Universitas Trisaksi, kekerasan Semanggi, Kerusuhan Mei 1998, penculikan aktivis pro-demokrasi tahun 1998, dan kasus Wamena, mengapa pemerintahan Yudhoyono dengan Tim Pencari Fakta (TPF) yang menurut Presiden, Presiden-lah yang mempunyai kewenangan untuk mengumumkan hasil penyelidikan TPF, sampai hari ini tidak dipenuhi oleh Presiden sendiri, yang berarti sejauh ini gagal menangani kasus Munir?

Mengapa Presiden gagal memaksa sejumlah institusi yang berkompeten menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran berat HAM, terutama yang terjadi di masa lalu ini?

Apa salah bila kemudian Komite Solidaritas Untuk Munir (Kasum) percaya bahwa pembunuhan Munir merupakan hasil konspirasi dari suatu kelompok dengan banyak nama yang terlibat yang bisa jadi di antaranya mengarah pada nama-nama yang ditemukan pada hasil temuan TPF yang merekomendasi untuk mengaudit kinerja penyelidik penyelidik Polri yang menangani kasus Munir dan Badan Intelijen Negara yang gagal membantu TPF dalam mengungkap kasus ini?

Apa salah dugaan bahwa konspirasi itulah yang seharusnya didalami oleh penyidik dan tidak hanya berfokus pada tersangka utama, Pollycarpus?

Apa salah bila kemudian muncul keranda mayat dan empat pocong menyambut sidang kasus pembunuhan aktivis HAM Munir dengan terdakwa Pollycarpus di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat 20 September 2005?

Apa salah bila kemudian muncul dua korek kuping ukuran jumbo dengan panjang 75 cm berbahan bambu yang ujungnya dililit kapas menyambut persidangan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 27 September 2005?

Apa salah lahir karya-karya seni, buku syair-puisi yang menyuarakan tentang kemanusiaan, perjuangan Munir dan penegakan HAM, lahir dan diputar di berbagai tempat dan massa film-film dokumenter tentang perjalanan Munir sebelum meninggal di pesawat yang membawanya ke negeri Belanda dan filem yang menggambarkan masa kecil serta sepak terjang Munir sewaktu masih memimpin LBH Surabaya maupun saat berada di Kontras: untuk menggelorakan semangat dan perjuangan menegakkan Hak Azasi Manusia yang telah dibela Munir sampai mati? Dan, agar perjuangan Munir tidak berakhir hanya sampai di sini?

Apa salahnya bila kemudian tua, muda, dan bahkan anak-anak di berbagai kota berkumpul memperingati setahun kematian aktivis HAM Munir menggelorakan musik dan orasi bahwa selama 60 tahun merdeka, jutaan orang menjadi korban kekerasan? Bahwa, dengan sistematis, negara menstrukturkan pola kekerasan baik berupa fisik dan nonfisik, seperti tragedi 30 September 65, Tanjung Priok, Kedung Ombo, pembunuhan Munir, dan lain sebagainya. Dan, sampai sekarang, negara belum mengusut secara tuntas!

Mengusut tuntas kasus kematian Munir adalah bagian dari komitmen memutus mata rantai kekerasan di Indonesia. Dan, hendaknya negara tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi persoalan bangsa!

Mengusut tuntas kasus kematian Munir adalah bagian dari otokritik dan perlawanan terhadap sikap bangsa, yang dari dulu kita adalah pemalas dan inginnya sesuatu yang mudah, tidak pernah berusaha lebih keras untuk memperoleh kebenaran.

Berbagai kasus kejadian di negeri kita, kita hanya selalu berhenti pada 'tataran kulit' dan kita cukup puas hanya melihat kulitnya saja, tidak mau susah untuk mencari kebenaran yang lebih dalam.

Peristiwa G 30 S, bangsa ini cukup puas dengan mengutuk dan menumpas PKI.

Kerusuhan Priok, bangsa ini cukup Puas dengan sederet tentara berpangkat Kopral.

Kerusuhan Ambon, bangsa ini cukup Puas dengan Manuputty.

Bom Bali, bangsa ini cukup puas dengan mengecam ABB.

Pembunuhan Munir, bangsa ini cukup puas dengan Pollycarpus.

Sangat menyedihkan, begitu mudah bangsa ini puas menyelesaikan tragedi masa lalu dengan menutup-nutupi masalah dan cukup mengorbankan kambinghitam berupa satu kelompok atau orang tumbal, dan untuk selanjutnya kasus-kasus serupa dengan tindakan serupa akan dengan mudah terjadi lagi, berhubungan dengan peristiwa yang sedang berlangsung, dan akan terjadi tanpa ada keadilan retributif sebagai model untuk menghadapi masa lalu yang kelam oleh pelanggaran Hak Azasi Manusia yang masif.

Semasa hidupnya, tentang hal ini almarhum Munir pernah berkata, "Menarik batas artinya menjadikan masa lalu sebagai pengalaman, sebagai referensi historis yang menuntun akal budi kita untuk pada hari ini membangun hari depan yang berbeda dan lebih baik."

"Jika kita terus menerus menolak, melupakan masa lalu, sesungguhnya kita sedang terus menerus mengembalikan masa lalu ke hari ini. Kita menjadi Sisyphus mendorong sebongkah batu besar naik ke puncak bukit hanya untuk mendapati batu itu jatuh dan turun lagi," ujar almarhum Munir dalam diskusi Menarik Garis Batas antara Masa Lalu dengan Masa Depan yang diselenggarakan sebuah radio bersama pembicara utama almarhum Nurcholish Madjid pada Juni 2003.

Saat itu Munir mengemukakan pikiran-pikirannya yang mengacu kepada Martha Minow (1998) dan Herbert Hirsch (1995) mengenai politik ingatan: hanya dengan mengingat masa lalu, bisa dirumuskan masa depan. Melupakan perbuatan buruk di masa lalu akan memungkinkan terjadinya pengulangan, dan akhirnya kita akan kehilangan masa depan.

Munir, Penerima Right Livelihood Award 2000 Penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer ini, seperti sudah mengingatkan jauh sebelumnya: seperti terhadap berbagai tragedi tindak kekerasan bangsa terhadap para korban yang kehilangan hak-hak azasinya, tragedi perampasan nyawanya, pembungkaman suaranya secara abadi dengan kematiannya melalui jalan diracun dalam penerbangan menembus awan janganlah pernah kita lupakan! Apalagi kasus ini belum ditangani secara adil.

Ya, kita seperti diingatkan oleh Munir yang menjelang keberangkatannya ke Belanda yang berujung kematian di awan (pesawat udara) pernah berjanji akan tetap terus menyuarakan demokrasi agar tegak berdiri di negerinya sendiri walau ia berada di negeri orang, bahwa tragedi-tragedi pelanggaran hak azasi manusia dan tindak kekerasan ini harus terus dikenang untuk mencapai masa depan yang baik, yang masih bisa dibangun dengan melewati tahapan-tahapan sebelum rekonsiliasi: buka dialog tentang kebenaran masa lalu, tegakkan keadilan melalui pertanggungjawaban secara hukum oleh pelaku, perbarui institusi-institusi dalam negara dan masyarakat, penuhi hak para korban atas pemulihan, serta temukan titik-titik rekonsiliasi yang akan mengantar menuju perdamaian sesungguhnya.

Ya, supaya tragedi yang sama tidak terulang lagi. Supaya tidak terjadi lagi labirin-labirin luka, kekerasan dan pelanggaran Hak Azasi Manusia. Supaya tidak terjadi lagi tragedi penuh luka dalam suatu labirin yang sangat rumit yang diramalkan akan selalu terjadi pada setiap orang yang berlawanan haluan dengan penguasa politik yang suka menutup mata dan telinga terhadap kontrol kekuasaannya dengan penegakan Hak Azasi Manusia.

Ya, mari bersama-sama kita cegah ‘Nubuat Labirin Luka’ menjadi sebuah kenyataan.*

Jakarta, 14 Nopember 2005